|
DEN-IEA BAHAS PENANGGULANGAN KRISIS ENERGI |
|
|
|
|
Thursday, 17 June 2010 |
Jakarta (suara karya): Dewan Energi Nasional (DEN) bersama Ditjen Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta International Energy Agency (IEA) membahas penanggulangan krisis dan darurat energi, khususnya ketersediaan minyak dan gas dunia.
"Ancaman harga minyak dunia, cadangan migas yang terus turun, serta konsumsi yang naik harus disikapi dengan bijak," kata Sekjen DEN Novian M Thaib di Jakarta, Rabu (16/6). Karena itu, pihaknya bersama lembaga energi internasional menggelar workshop untuk mencari format kebijakan energi yang terbaik di Indonesia. Pemerintah, menurut Novian, harus mempunyai kebijakan yang tegas dengan mempertimbangan kepentingan jangka panjang. Apalagi, konsumsi migas yang besar harus dikelola dengan baik agar cadangan energi tidak terbarukan itu tidak dikuras habis saat ini. "Perlu langkah strategis demi kelangsungan dan kepentingan generasi mendatang," ujarnya. Menurut dia, perlahan Kebijakan Energi Nasional harus diarahkan pada sumber energi yang terbarukan dan ramah lingkungan. "sebaliknya, ketergantungan pada energi fosil terutama migas dan batu bara bisa dikurangi," kata dia. Karenanya, dalam workshop itu pihaknya menggali pengalaman dari berbagai negara maju yang tergabung dalam IEA terutama berkaitan dengan penanggulangan krisis energi fosil. Pejabat senior Kementerian ESDM itu menilai, Kebijakan Energi Nasional dinilai IEA cukup bagus. "pelan tapi pasti, pemanfaatan energi fosil dikurangi. Tapi, aplikasi kebijakan itu yang perlu dipantau dan dicermati bersama," tuturnya. Sementara itu, Director Energy Market and Security IEA Didier Hussin, mengakui, banyak negara di dunia termasuk anggota IEA sangat tergantung pada energi fosil. Kondisi itu dinilainya tidak bagus dalam perspektif jangka panjang sehingga harus segera diperbaiki. "Energi fosil adalah cadangan langka dan jumlahnya terus berkurang. Jangan sampai konsumsi sekarang dibiarkan dan berdampak buruk bagi generasi mendatang," tutur Didier. Terkait hal itu, Novian maupun Didier sepakat perlu adanya perubahan pola konsumsi atau energi fosil yang lebih efisien. "jika tidak, akan kacau dan berpotensi menimbulkan krisis energi bagi anak cucu ke depan," ujar Novian. (a choir) |